Mulazamah dalam Kelas

Mulazamah dalam Kelas

Mulazamah adalah sistem pendidikan yang dilakukan oleh para tholabul ilmi dijaman salaf dulu, dimana seorang santri berusaha untuk tinggal dilingkungan gurunya, kemudian belajar menuntut ilmu dari guru tersebut, dengan mengambil ilmu secara langsung (talaqi) dari gurunya serta memperhatikan akhlak gurunya dsb. Sebagaimana arti kata mulazamah itu sendiri yakni, يالزم الزم – yang berarti menemani atau tinggal bersama.

Hasil metode ini sudah menelurkan ribuan ulama salaf yang tidak diragukan lagi keilmuannya. Sebagian orang menerapkan sistem mulazamah ini dengan mondok, namun ini kurang tepat karena tidak semua pesantren menerapkan sistem mulazamah, sejatinya pesantren adalah kemudahan yang diberikan oleh pengurus atau guru dengan memberikan tempat tinggal bagi para penuntut ilmu yang merantau dari tempat yang jauh. Sehingga mereka tidak perlu mencari-cari lokasi sendiri. Dan sistem pendidikan dapat terpadu antara tempat tinggal dengan sekolah.

Sistem mulazamah tidak mewajibkan mondok, sistem mulazamah yang paling penting adalah adanya guru atau ustadz yang mengajarkan secara mulazamah. Seperti di Unaizah markas ibnu utsaimin atau di Yaman. Inilah perbedaan antara mulazamah dengan sistem kelas atau universitas atau sks, dimana siswa menyelesaikan course demi course kemudian lulus dan mendapat ijazah. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullaah- pernah berkata ketika mengomentari sistem kelas/universitas : “Yang menjadi masalah adalah : Bahwa orang seperti ini (orang jahil dengan gelar) dikatakan sebagai orang yang mempunyai ilmu, akan tetapi sebatas ilmu lembaranlembaran kertas yang diberikan kepada seseorang sebagai bentuk Ijazahnya, yang menunjukan bahwa dia Alumni Fakultas ini dan itu.” Lalu apakah sistem mulazamah tidak ada kekurangan? Jika ya mengapa tidak dipakai secara umum? Menurut hemat kami sistem mulazamah juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain :

  • Sangat tergantung dengan guru ketika guru kurang bagus, maka siswa juga kurang bagus, ketika guru bagus maka siswa juga bagus. Karena tidak semua ulama itu rabbani, jika ulama saja ada yang tidak rabbani maka bagaimana dengan guru yang masih di bawah ulama?
  • Kekurangan guru ini akan berpengaruh pada banyak hal, mulai dari kurikulum, tidak pasti, sulit mengatur siswa lama dan baru, sulit melakukan perbaikan ketika kesalahan ada di guru dsb.
  • Tidak terjaminnya waktu kelulusan

Kekurangan-kekurangan di atas lah yang menjadi penyebab dibuatnya sistem kelas. Oleh karena itu kami berusaha menerapkan sistem mulazamah dengan beberapa perbaikan yaitu :

  • Mulazamah dalam kelas Setiap guru memiliki kelas sebagai tempat ia mengajar, sebagai pengganti halaqah-halaqah di masjid-masjid ulama terdahulu. Ia betanggung jawab penuh di kelas tersebut
  • Kurikulum Modular Imam Nawawi Kurikulum terpadu yang sudah disusun oleh sekolah sebagai pijakan dan modal guru dalam mengajar
  • Kriteria kelulusan yang jelas Siswa hanya melanjutkan modul nyang telah dituntaskannya. Tidak dipaksakan naik modul, tidak juga mengulang seluruh modul
  • Guru per mata pelajaran
  • Guru Pembimbing sebagai pendamping siswa
  • Musyawarah Guru Pengajar
  • Pelatihan, Pengawasan, dan Evaluasi Guru Dilakukan oleh yayasan/ sekolah agar guru terus meningkat kualitasnya, kemampuan mengajarkanya, pemahaman atas murid-muridnya, hingga tumbuh sifat rabbaninya